Kamis, 12 Januari 2012
air mata untuk kucing
Kemarin, bener-bener hari yang menguras air mata. Ceritanya kemarin aku berangkat pergi ke kampus saudara-saudara sekalian. Jalanan pagi sekitar pukul setengah 8, macet padat merayap. Katanya ada komo lewat//Lho. Hhe.... karena itulah, aku memutuskan lewat jalan tikus, tapi gak kecil-kecil juga sih lebar ko jalannya, pemukiman warga caringin padalarang. Gak tahu yah? Kalian sih taunya dari padalarang Cuma kota baru doang (hehe). Santai saja aku membawa motor dengan jalanan yang lumayan lowong (sepi). Biasa, aku melamun melihat yang terlihat oleh mata yang penting otakku sudah tersetting menuju kampus. Tiba-tiba penglihatanku tertuju pada sesosok kucing dewasa berwarna oranye. Saat aku melihat seekor kucing itu dalam pikiran dan hatiku terbenak “kucing itu bakalan tertabrak motor”. Huft, seharusnya aku gak boleh berpikir buruk eperti demikian. Kucing malang yang duduk dipinggir gerobak sampah menunggu sisa makanan yang terbuang untuknya. Tukang sampah itu berjalan membawa sampah yang dipinggulnya menuju gerobak, kucing malang itu sepertinya terkejut langsung menyebrang ke arah lain dan seketika itu pula motor yang melaju kencang melindas dua kali dan kucing tetap mencoba berlari akhirnya terpental ke dalam selokan. Astaghfirulloh...kejadian itu terus terbayang-bayang hingga sekarang. Aku teriak-teriak seperti orang gak waras tapi, bapak-bapak yang menyetir motor dan membonceng istrinya itu cuek bebek. Mereka tidak mengkhawatirkan kucing itu. Aku berhenti ingin mencari dimana kucing itu, tapi tidak terlihat. Dua orang tukang sampah itu tidak melihat kejadian itu. Mereka malah terus wae ngeliatin (-in gak ada dalam ejaan. Hhe) aku yang teriak-teriak geura. Aduh mamang-mamang malah ngeliat aku dengan tampang yang bingung. Karena aku pun terburu-buru aku gak bisa menolong kucing itu. Aku hanya berharap dia gak kenapa-napa.
Sepanjang jalan aku menangis. Aku menggerutu. Aku tepat di belakang motor bapak-bapak tadi. Aku ingin menegur tapi aku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Aku tetap menangis mengingat aku yang tak bisa melakukan apa-apa.
“uhhhh...kesel-kesel, bapak-bapak jahat, gak punya perasaan, kurang ajar, kamu pikir kucing Cuma binatang sembelih apa? Kucing juga punya rasa sakit tau.” Gerutuku sambil menangis
“kenapa coba aku gak tolong? Kenapa harus buru-buru? Kenapa harus ada uas? Ahhh...bapak-bapak bego, bodoh. Tuh ibu-ibu yang belakang juga kok gak tersentuh hatinya.” Gerutuku lagi
Aku terus menggerutu dan menangis sepajang jalan. Aku gak sadar ternyata aku sudah sampai sangkuriang. Pertigaan yang membuat kendaraan berjalan bergantian. Aku mebuka kaca helmku, seketika orang-orang disekelilingku melihat wajah ku dengan penasaran. Aku bingung sendiri jadinya, kenapa mereka memperhatikanku seperti itu. Pas aku liat spion “ya, Alloh mata aku sembab”. Aku tutup lagi ajah tu helm. Bener-bener aku sakit hati ama bapak-bapak hati itu.
Siangnya aku dan teman temanku diem tuh dikostannya pepey. Saat asyik-asyiknya mau tidur. Pepey panggil-panggil aku. Katanya, dia liat kucing kecil di selokan. Buru-buru ajah kita lihat. Pepey pengen banget nolong tuh kucing. Tapi, pepey gak bisa. Gak ada cara buat nolong tuh kucing mungil. Gak ada jalan buat ke tempat kucing kecil itu. Kucing kecil itu terpelungkup dan bersuara lemah. Sepertinya, kucing itu meminta pertolongan. Lagi-lagi gak ada yang bisa aku perbuat. Kucing kecil itu tampak sudah sekarat, tak bisa berjalan. Nampaknya kucing kecil itu terbawa arus bisa sampai jauh seperti itu. Hujan mulai turun, kalau hujan turun dengan lebat aku yakin kucing itu akan terbawa hanyut. Was-was aku meninggalkan kucing itu. Ampun, sekarang dua kucing dalam pikiran ku. Mataku berkaca-kaca lagi. Hujan ternyata lebat. Aku benar-benar takut. Aku bingung gak tahu harus melakukan apa. Setengah jam kemudian hujan pun berhenti. Aku melihat kembali keadaan kucing itu. Aku berharap ada keajaiban dan kucing kecil itu selamat. Ternyata harapan aku tak terwujud. Kini kucing itu sudah meninggal dunia nampaknya, kucing itu sepertinya kedinginan. Kucing kecil meninggal dengan basah kuyup, kepalanya meminggir. Kucing yang lucu kataku dalam hati. Tubuhnya yang mungil tertimpa-timpa air yang keluar dari paralon. Kasian sekali kucing kecil itu.
Malam tiba saat waktu menunjukkan manusia agar terlelap. Aku tidak bisa tidur. Kejadian hari ini tentang kucing masih saja terlintas. Kucing yang terlindas depan mataku ini khususnya. Takuuut...takuuut. aku hanya bisa berharap kucing itu selamat. Orang bilang kalau ada kucing tertabrak kendaraan, biasanya kendaraan itu seringkali membawa celaka. Entah mitos atau memang benar. Yang jelas aku berharap bapak-bapak itu sadar dan tidak akan terjadi apa-apa padanya serta kucing malang itu. :D
Makhluk ciptaan Alloh wajib disayang tak terkecuali dengan hewan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
4 komentar:
Kesadaran tingkat tinggi!! , awass....jatohh :D
napa kesadaran tk.tinggi? bener2 tega yah..:(
iya tingkat tinggi, sampe2 nangisin segala :D ..
brti org tipe kaya gitu tuh paling ga bisa klo disuru manjain istri ^_^ ..
abis kasiian tau, gak tega aku, ga karuan prasaannya.
hah? apa hubnya UL dri kucing pe istri?
Posting Komentar