PUISI

  • Beranda

Like This

Punya aku

  • cm's phoem (9)
  • corat-coret kehidupan (non fiksi) (4)

About Me

Foto Saya
catri maulid
simple... menulis untuk penuangan pikiran, imajinasi dan perasaan
Lihat profil lengkapku

Wilujeung Tepang...

WiLujeung TEpang "Kembang Pena"

terima kasih sudah berkunjung, nikmatilah segala sesuatu sebagai asupan mata, imajinasi dan hatimu.

add my Facebook

ma'hamii

ma'hamii
ma'hamii

pelindung

DMCA.com

ma'hamii

ma'hamii
ma'hamii
catrimaulid. Diberdayakan oleh Blogger.

ma' hijab

ma' hijab
ma' hijab

ma'hijab

ma'hijab
ma'hijab

Followers

Catri Maulid

Rabu, 26 Juni 2013
In: cm's phoem

Lubang Kabut RIAU

hah? kejutankah? atau pembiasaan?
apa? perlu atas nama Indonesia meminta maaf?
hey...Riau bagaimana kabarmu hari ini? apakah kabut asap masih menyeruak di pernapasan Riau? tenang-tenang... katanya tak usahlah berbicara, Riau cukup diam dan arahkan mata ke atas langit. 2 ton garam sedang dihambur-hamburkan, hujan turun...ya hujan buatan turun! lari-lari ke arah lapang, buka baju menari-nari, bernyanyi, kita berbahagia. bagaimana rasanya??? "asin". cucuran apa ini?berkah atau air keringat para kelas atas, kelas atas yang membakar Riau. kelas atas yang mengunci Riau, mengubah Riau menjadi letusan asap. Rupanya gunung berapi meletus.ya, benar gunung berapi dari sekian gunung yang negeri seberang kuasai. Riau yang tersedak. Riau yang menderita. Riau yang jadi korban. apakah Riau pula yang harus meminta maaf?
hey.. sabarlah! bukan Riau yang harus meminta maaf tetapi seluruh Indonesia. baik, lakukanlah! meminta maaf bukan karena kabut yang sampai ke tangan yang tertawa atas ini semua, tapi meminta maaf atas ketidaktegasan pada yang terbahak.
uhuk-uhuk... berlubang-lubang pernapasan Riau kini berlubang. lubang hitam yang menelan kesehatan Riau.
hey para petinggi relakah kalian sibuk untuk Riau kesulitan mencari oksigen?
relakah kalian menyewa peri oksigen?
hahahaha sungguh rela! bicara apa kamu ini? bagaimana mungkin kami tak rela! (apakah sikap kami sudah baik depan media?) ok matikan sekarang!
kau gila?? halo hari gini masih percaya peri?

seperti inikah para petinggi? dibuai kemunafikan.

masih hey masih.  pohon yang menjuntai kokoh dan tinggi, akar yang menjalar, daun yang rindang, merekalah sekelompok peri!

tunggu jangan pergi... mohon Riau mohon.. ulurkanlah tanganmu pak! Riau kesulitan bernapas. bawalah Riau ke istanamu. istana yang sejuk yang menyimpan banyak tabung oksigen.
sudahlah.. Istana tak mungkin menampung sebanyak ini! lihat sudah banyak sukarelawan disini. bergantunglah pada mereka.
kamu tahu Riau? kami banyak pekerjaan, kami harus ke negeri seberang untuk perdamaian para petinggi. ini bawalah beberapa bungkus rokok untuk kau hisap! semoga bisa membantu menutup lubang hitam yang kamu miliki!

jaga dirimu baik baik pak, Riau selalu berdoa untuk kebaikan Indonesia. semoga ketidaktegasan, rasa malu dapat menjunjung tinggi perdamaian. jangan sampai Riau yang dikorbankan akan terus dikorbankan dan tinggal kabar!
ambilah kembali beberapa bungkus rokok ini. hisaplah! dan bapak akan tahu!


Diposting oleh catri maulid di 03.24 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Jumat, 24 Februari 2012
In: corat-coret kehidupan (non fiksi)

FIRASAT BURUK TERBUKTI

    Malam yang tidak begitu dingin, aku terlelap dalam hangatnya kasur yang empuk di rumahku. Dua hari istirahat di rumah serasa tak cukup bagiku. Malam itu aku bimbang, aku masih ingin istirahat dari sakitku di rumah, tapi hatiku yang lain berkata aku rindu murid-muridku dan aku yakin merekapun rindukan aku. Tak biasanya mata ini terpejam cepat, pukul 8 malam jiwaku sudah berkeliaran untuk mencari mimpi si bunga tidur. Walaupun jiwaku tak ada ditempatnya aku merasa antara tidur dan terjaga. Perasaan yang aneh di selasa malam tanggal 21 Februari 2012. Mimpi yang samar, mimpi yang membuat aku gundah. Berkali-kali aku berpindah channel mimpi, berkali-kali pula mimpi itu mengenai kejadian kecelakaan. Aku sungguh takut malam itu, begitu berusahanya aku coba untuk bangun. Akhirnya, dengan keadaan yang sedikit linglung, aku pergi ke kamar mandi dan mengambil wudlu. Aku merasa bingung perasaan yang tidak mengenakkan ini apa, aku merasa akan ada yang terjadi esok hari. Akhirnya, aku kembali ke atas tempat tidurku, berdoa sebelum tidur hingga terlelap dengan mimpi yang masih tetap samar.
    Kini hari sudah berpindah menjadi rabu tanggal 22 februari 2012 tepatnya. Bangun dengan perasaan yang mengganjal pada jam setengah lima pagi. Suara adzan terdengar menggema. Mataku yang masih sedikit susah terbuka memaksaku ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mengambil air wudlu. Solat subuh aku jalani, dingin yang menusuk membuatku mengurungkan niat untuk mandi. Aku hanya mengganti pakaian dalamku dan memakai baju mengajarku. Yah, baju berwarna hitam dengan garis-garis putih cocok dengan kulitku yang putih. Baju yang bagus, baju baru yang mamah aku berikan. Aku menyukai modelnya, tapi entah mengapa baru kali itu aku kurang menyambut datangnya baju baru tersebut. Tidak seperti biasanya, bila ada baju baru aku suka centil kaya anak kecil yang dapat baju baru. Huft... aku merasa ada yang mengganjal dengan baju itu. Aku mengaca di cermin, jilbab, bau guru sudah terpakai tapi masih saja ada yang kurang.
    “Ya, Alloh kenapa aku merasa tidak nyaman dengan baju ini. Kenapa baju ini berwarna hitam? Pasti ada apa-apa nanti” hatiku berkata demikian
Mengapa aku merasakan hal aneh ini, aku takut memakai baju hitam ini. Tidak seperti biasanya pula aku santai ketika akan pergi. Sarapan pun sedikit. Pukul 05.15 WIB kekasihku menjemputku. Ia hendak mengantarkan aku pergi. Melihat dirinya akan mengantarkanku pun aku merasa aneh. Aku malah pagi itu untuk pergi. Setelah kekasihku ias meneguk teh manis buatanku hingga habis kami berpamitan dengan nenek. Seperti biasa, nenek mendoakkan keselamatanku sebelum pergi. Ias pun meminta doa untuk kami sebelum kami pergi.
    “sebelum pergi berdoa dulu... bismillahi tawakaltu...............................” kataku dalam hati
aku pergi diantar Ias menaiki motor bapakku. Masih saja aku merasa tidak enak hati dan masih saja ada perasaan yang tidak nyaman dengan pakaian yang aku kenakan.
    Perjalanan terasa cepat, dingin pagi pun aku tak merasakan. Pikiranku seperti ada yang menyihir pada sebuah tragedi kecelakaan. Aku bingung kenapa semenjak malam tadi aku terus saja memikirkan kecelakaan. Aku takut sekali akan terjadi apa-apa. Terlebih lagi aku takut kejadian tidak mengenakkan terjadi pada Ias. Obrolan dengan Ias di sepanjang jalan pun tetap saja tidak bisa membuatku fokus. Aku dan Ias menghampiri kediaman Novi temanku. Dari rumah Novilah Ias akan melepaskan aku. Ias hanya mengantarkan aku sampai rumah Novi. Selanjutnya, Aku berangkat bersama Novi. Tiba disana tidak biasanya melihat Novi tidak sesigap biasanya. Ia agak terlambat. Aku datang Novi baru saja mandi. Perasaan aku makin tidak karuan. Ada apa sebenarnya ini.
    Sekitar jam 06.30 aku berangkat. Berpamitan dengan orangtua Novi adalah hal yang kami dahulukan. Sama seperti nenek mereka mendoakkan keselamatan kami. Ias sendiri di motor bapakku sementara aku duduk dibelakang di motor yang Novi kendarai. Sebelum kami melesat ke daerah bandung bagian barat tepatnya kota lembang, kami mengantar Ias terlebih dahulu sampai lampu merah yang menuju fly over. Aku khawatir sama Ias. Aku takut terjadi apa-apa. Tak henti-hentinya aku mendoakkannya. Beberapa kali aku mengucapkan “dadaaaaah aa... hati-hati yah hati-hati”. Firasat buruk sedang menghantuiku. Di perjalanan menuju Lembang via Dago aku dan Novi bercerita macam-macam. Aku pun mecoba untuk berteriak-teriak senang kembali walaupun sebenarnya aku merasa dihantui firasat buruk. Aku ingin segera sampai di Cibeureum Lembang. Aku ingin segera membuka ponselku. Aku ingin menghubungi dan memastikan Ias telah sampai di rumah dengan selamat.
    Pukul 07.00 kami sampai di gerbang Narima Hotel. Jalan yang menghubungkan kami ke desa cibeureum. Hatiku makin merasa tidak karuan. Padahal kami akan sampai di tempat tujuan. Kurang lebih sektar 3 km lagi. Kami pun sudah masuk ke daerah perkampungan. Novi dengan santai mengendarai motor. Ia mengendarai motor sekitar 20-30km/jam. Tiba-tiba ada seseorang ditemani orang lain dibelakangnya mengendarai motor seenaknya. Mereka keluar dari gang kecil dengan sekaligus sehingga spontan kami kaget dan motor oleng,
    “teh Novi awas....”teriakku.
Dengan sigap rem depan dan belakang Novi tekan. Tetap saja motor seperti ya terkejut dengan rem dadakan itu sehingga motor keluaran lama itu tak berdaya menanggung berat kami dan mempelantingkan kami. Aku mendarat jatuh duluan di tanah kotor sebelah aspal yang berbatu. Saat itu aku masih mempunyai usaha. Aku jatuh dengan keadaan duduk dan tangan menopang berat tubuhku. shock tak terelakkan lagi, bukan karena aku yang jatuh, tapi aku shock melihat Novi terjatuh didepan mataku dengan posisi tertelungkup. Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana wajah Novi bergesekkan dengan aspal, aku melihat Novi mencoba bangun memegang hidungnya. Aku melihat kaca matanya yang berguguran cembungnya, aku melihat bagaimana aliran darah langsung menutupi bagian tengah wajah Novi. Yang aku takutkan kaca dari kacamatanya masuk ke dalam retina matanya. Aku ingin sekali bangun dan menolongnya. Tubuhku lunglai. Kakiku sulit digerakkan begitulah tubuhku merespin saat melihat aliran darah. Sepertinya, tatapan mulai gelap, aku merasa akan jatuh pingsan. Aku hanya mendengar orang-orang meneriaku. “awas itu kena batu... kena batu”. Mataku mulai gelap, aku merasakan aku dipayang oleh beberapa orang. Aku diturunkan di bagian depan rumah warga. Mataku mencari Novi. Aku melihat Novi sudah didalam. Syukurlah dia tak kenapa-napa, masih sanggup berdiri. Aku ingin menghampirinya dan memeluknya, karena aku tahu lukanya lebih parah dariku. Aku tidak tahu kekuatan apa yang bisa membuat dia jalan dengan sendirinya ke dalam rumah warga dan kulihat dia sedang menelepons seorang teman. Entah siapa yang dia telepon namun dapat kupastikan dia menelepon teman sekelompok kami. Kakiku keram masih sulit digerakkan, mataku semakin gelap dan aku merasa aku pasti akan pingsan. Dengan keadaan setengah sadar aku mengingat Alloh dan aku mengucapkan kalimat istighfar. Pandanganku mulai cerah kembali, aku dipayang oleh seorang warga ke dalam ruangan. Aku dibaringkan di sebuah kursi tamu. Kakiku masih sulit digerakkan. Terasa kakiku sedang dipijat-pijat. Akhirnya, kakiku bisa gerak namun kaki ini terasa perih. Ternyata memang kakiku ada luka, tanganku juga terluka dan celanaku berlubang. Akhirnya, aku bisa cerah melihat wajah Novi. Novi nampak sibuk mengelap wajahnya dengan hnduk basah dibantu oleh warga. Aliran darah terus mengalir. Mulutku sulit berkata. Aku tak memikirkan diriku lagi, aku bingung harus berbuat apa untuk Novi. Aku hanya bisa diam.
    Aku menceritakan kronologis peristiwa itu. Aku berkata kalau Novi tidak sedikitpun mengebut. Kalau kami mengebut mungkin keadaan kami lebih parah dari ini. Orang yang mengendarai motor itu saat kami jatuh malah melamun dan tidak tergugah untuk menolong. Ketika warga yang lain memerintahkan orang itu untuk menolong barulah beliau menolong dan setelah itu kabur entah kemana. Aku tak peduli mereka mau merasa bersalah atau tidak. Yang aku pedulikan keadaan Novi. Aku merasa takut, bayangan kejadian Novi saat terjatuh masih menari-nari di benakku. Akhirnya, setelah beberapa menit kemudian kami dibawa ke PUSKESMAS Cikole, PUSKESMAS terdekat dari daerah Nyampay tempat kejadian itu. Bersamaan itu teman sekelompok kami Ina dan Santi datang. Ina terlihat bingung, ia sontak mengucapkan “Allohu Akbar” saat melihat kami. Aku tak peduli tak ada orang yang memboyongku, asalkan temanku Novi dibantu berobat, aku pun tidak peduli jika aku tidak diobati, aku hanya ingin Novi terobati. Aku mengikuti Novi dari belakang masuk ke dalam mobil box. Di dalam mobil kami berpandangan.
    “Chat, maafin aku yah?” dengan mata yan berkaca-kaca
Aku tak bisa menjawab itu, aku hanya terdiam dan aku mencoba memeluk Novi dan mencium kerudungnya. Aku sayang temanku, aku tak ingin dia kenapa-napa. Aku akan merasa dalam penyesalan jika Novi kenapa-napa. Beberapa menit saja kami sampai di PUSKESMAS, aku meminta Ina melihat Novi terlebih dahulu dan jangan pikirkan aku. Novi dabringkan di tempat tidur pasien, sedangkan aku duduk. Aku merasakan sakit, tapi aku merasa sakit lagi ketika Novi berteriak kesakitan dan menangis kencang karena tak tahan merasakan sakit saat lukanya dibersihkan. Aku ikut menangis. Aku shock shock shock. Aku tak kuat mendengar tangisan Novi, aku tidak peduli luka-lukaku, Ina menutup telingaku dan aku memeluk Ina dengan erat. Setelah Novi, barulah aku diobati. Lukaku dibersihkan, aku mencoba tak menangis, aku menahan sekuat mungkin yang aku rasakan, karena aku tahu yang aku rasakan tak sebanding yang Novi rasakan. Aku mendengar dokter berbicara kalau Novi harus dijahit. Pikiranku langsung ketakutan, aku tahu Novi menolaknya. Dia takut untuk hal-hal seperti itu. Aku tahu karena sikap kekanakkannya tidak beda jauh denganku. Benar saja Novi menolaknya. Orang-orang yang berkunjung untuk berobat mengalihkan pandangannya ke arah kami.
    Nova saudara kembar Novi datang. Novi kembali menangis, akupun ikut menangis. Aku melihat raut kekhawatiran dari wajah Nova.
    “keluarga Novi ada? Penanggung jawabnya...?” dokter memanggil
Terbesit dibenakku, siapa yang akan menjadi penanggung jawabku? Tak ada  keluargaku disini. Kalau aku menelepon rumah, hanya ada nenek di rumah, nenek pasti tak tahu harus bagaimana dan malah membuat nenek kepikiran aku gak tega. Mau menghubungi orangtua, mereka tidak memegang handphone lagi. Aku memberitahu Ias semenjak di rumah warga tadi. Aku tak sengaja melihat handphone dan mendapat pesan dari Ias bahwa ia telah sampai di rumah. Aku merasa lega. Ias, hanna temanku berulangkali meneleponku. Tapi aku tak menggubrisya. Aku masih memandang Novi. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya dengan wajah yang sudah tertutup kain kassa dan plester. Ina menjawab telepon Ias. Ina memberitahu Ias. Ina meminta agar tidak menghubungiku dulu sepertinya Ina tau kalau aku masih shock. Hanna datang, dia memelukku dan aku menangis aku bilang “kasian...teh Novi”, Hanna pun melihat keadaan Novi. Perih rasanya melihat keadaan kacau teman sendiri. Biaya administrasi sudah dibayar Nova. Akhirnya, kami kembali ke rumah warga yang tadi menolong. Sementara kami berbaring di kamar. Aku lega melihat Novi masih bisa becanda. Aku sempatkan membuka ponselku. Aku lihat ada satu pesan dari Novi, ia meminta maaf lagi. Kadangkala aku menutupi wajahku dan mengerutkan keningku saat aku melihat luka di wajah Novi yang mengingatkan kejadian yang buatku melunglai. Istighfarku dalam hati mengingat hal itu. Aku mencoba mengalihkan pikiranku, dan tidak hiraukan rasa sakitku, aku ikut becanda. Tak berapa lama datanglah ibu Hj. Eka pengganti orangtua kami di tempat PPL. Kami tinggal di rumah beliau. Dia nampak terkejut melihat keadaan Novi. Ia pun berkata padaku
    “emh, bade aya neng catri deui bakalan rame deui, tapi kalahka kejadian kieu (emh, mau ada catri lagi, bakal rame lagi, tapi malah kejadian kayagini)” simpati bu Hj. Eka
Kami berdua diantar ibu Hj. Eka beserta suami dengan menaiki kendaraan pribadinya. Ke rumah Novi di Cisitu Dago. Dua teman kami, Widia dan Lia ikut mengantar kami. Tak ketinggalan Pepey dan Hanna menyusul menggunakan motor.
    Sampai di rumah Novi, terlihat raut tegang di wajah orangtua Novi. Aku ikut menunggu di rumah Novi sebelum aku di jemput Ias. Lama aku berada disana. Sebentar aku dan teman-teman bercengkrama memuaskan kerinduan. Benar kata Hanna, kumpul ya kumpul tapi kenapa harus ada yang celaka dulu. Satu per satu pulang hingga tinggalah aku seorang yang menunggu. Aku nenghampiri Novi dikamarnya.
    “teh maafin catri yah?” sambil memegang jari jemarinya
    “catri minta maaf untuk apa?” tanya balik Novi
    “aku ingin minta maaf ajah, teteh tau gak? Teteh sekarang jelek banget dengan muka kayagitu. Cepet sembuh teh biar cantik lagi” candaku
Walaupun sepertinya sakit Novi menoba untuk tersenyum. Aku memeluknya sebentar.
    “kita jadikan pembelajaran yah, teh? Tenang ajah PPL terlambat yang penting agustus teteh pasti jadi nikah” hiburku lagi
    “aamiin...”masih mencoba tersenyum
Tak berapa lama Ias datang menjemput. Dia datang tepat waktunya saat aku mulai merasa pusing. Saat aku mulai merasakan capek yang teramat. Sambil menunggu hujan reda kami melihat keadaan Novi, lalu kami pulang. Dalam perjalanan firasat ku kini sudah hilang hanya saja pikiran tentang kejadian tadi selalu saja berlalu-lalang.

    Ya Alloh, kejadian ini kata teh Novi biarkan jadi kenangan indah. Kami tahu ini bukti engkau sayang kami. Kami tahu engkau tidak mungkin memberikan ujian pada kami yang melebihi kemampuan kami.
    Aku sempat berpikir, kenapa bukan aku yang terluka lebih parah dibandingkan aku merasakan sakit yang mendalam akan peraaan bersalah dan shock ini. Walaupun, aku tahu seharusnya aku mengucapkan syukur karena kami masih diberi perlindungan. Aku gak tega melihat Novi dan aku pun tersiksa bila harus mengingat kejadian itu. Sampai sekarang selalu terbayang, kejadian jatuh Novi di depan mataku. Aku selalu mengutuk, aku jatuh duluan kenapa aku tidak sigap menahan Novi, kenapa aku tidak kuat berdiri untuk menolong Novi, Kenapa? Kenapa saat itu aku tidak berdaya? Aku takut peristiwa ini akan terus terlintas. Beginilah aku selalu mengiang apa yang terlintas di depan pandanganku.
    Ya Alloh, Ya Robby, maha pemberi kesembuhan, sembuhkanlah hamba terbaikmu Novi. Sehatkanlah dia lebih dari biasanya. Kabulkanlah segala yang ia inginkan, dan selalu berikan dia yang terbaik. Aammin

“segala sesuatu akan ada hikmahnya dan yakinlah kita pasti mampu menghadapi segala ujian, lagipula ujian adalah hal yang terindah”
Diposting oleh catri maulid di 04.20 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Senin, 20 Februari 2012
In: corat-coret kehidupan (non fiksi)

PPL....MENGGILA !!!

PPL....MENGGILA !!!
    Astaghfirulloh, PPL malah gempor. Harusnya aku kuat tapi malah sakit begini, akhirnya dokter menyuruhku istirahat 2 hari sampai selasa tanggal 21 February 2012. Ya, Alloh kuatkan aku. Huft, sebenernya males banget liat RPP. Tiap hari RPP. Tiap hari dijajah RPP. Terjaga sampai larut malam, belum masalah kelompok, masalah sekolah lain, sampai saat ini pun...saat istirahat aku masih harus mengerjakan RPP, ampun semua ini membuat aku terjatuh sakit. KECAPEAN gitu tuh kata dokter. Ayo, aku pasti bisa taklukkan semua halangan, beban di semester akhir ini. Aku pasti bisa. Aku tau kenapa Alloh kasih aku sakit,  Alloh sayang sama aku, sebelum aku ngedrop di akhir, Alloh kasih aku drop sekarang, biar aku istirahat lebih awal.
Add caption

    Praktek ini juga sangat buat aku bahagia. Alhamdulillah, aku disayangi murid-murid SD 6 Cikidang. Tiap hari satu orang murid bisa menyalami tanganku hingga berapa kali. Hal yang paling membuat aku senang, saat mereka menganggap diri ini teman, mereka gak sungkan mengajak aku bermain dan aku pun bisa masuk ke dalam dunia mereka. Oh, celotehan mereka itu sungguh buat aku tertawa terbahak-bahak tanpa beban. RPP yang sering membuatku kesal sering kulupakan karena respon baik mereka padaku. Tian, Kukuh, Arif, Novita, mereka ini anak kelas dua yang aku paling sayangi. Mereka begitu polos dan memiliki keunikan sendiri. Hani, Risma, Cindy, Aria, Udan, dan lain-lainnya anak-anak kelas tiga yang kadang buat aku emosi , tapi seketika membuatku tertawa riang lagi. Tadi siang pun mereka meneleponku lewat telepon teh Novi kawan baikku. Mereka menginginkanku cepat kembali ke SD. Mereka sayang aku.. bahagianya aku punya anak banyak. Mereka mendoakanku cepat sembuh. Ya Alloh aku baru tau begitu dahsyatnya kebahagiaan menjadi seorang guru. Mungkin ini pula yang membuat panasku akhirnya mereda. Doa dari anak-anak yang masih suci pikiran dan hatinya. Aku rindu mereka...., ada juga anak kelas 1 si Adri, anak kelas 4 si dikdik, kiki, bagas, erwin. Ada juga anak kelas 5 si Widy, si Agung.. waaaaaaahhhhh masih banyak nama-nama lain yang aku lupa saking banyaknya mereka.
    Pernah sekali aku dan Novi masuk ke kelas 6. Suasananya beda, perempuan yang sudah bongsor-bongsor (katanya di kampung ini, anak kelas 6 itu sudah siap nikah). Wah, asalnya aku dan Novi gak nyaman masuk kelas ini. Belom lagi kita belom memiliki konsep mau mengajar apa. Tapi akhirnya kami bisa berbaur juga. Ada seorang anak bernama Syahrul yang pemberani. Dia berani ke depan walaupun salah, dia juga humoris. Dia bisa membuat aku tertawa padahal aku sedang sakit. Limpahan surat aku terima dai anak kelas 4 dan 6. Banyak dan banyak surat ungkapan senang mereka padaku. Aku gak tau apakah aku bisa menerima murid lain nantinya setelah aku PPL? Pokoknya saat perpisahan nanti aku dan kelompok harus membuat sebuah kenangan yang melekat di diri mereka. Mungkin sebuah pentas seni kecil. Apapun akan aku lakukan untuk melihat tawa mereka. Karena dari tawa itulah senyuman batinku melanglang buana. I love u all... kalian adalah tawa ibu...

Diposting oleh catri maulid di 02.49 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Minggu, 15 Januari 2012
In: corat-coret kehidupan (non fiksi)

SELAMAT DATANG, SELO !!!

    Pagi ini begitu cerah sebenarnya, tidak seperti beberapa hari kemarin yang selalu mendung dan menimbulkan kedinginan yang begitu menusuk ke dalam lapisan kulit. Si aku ini termasuk cewek yang gak sahabatan sama udara dingin. Terakhir aku takluk sama yang namanya dingin itu, saat Latihan Kepemimpinan (LKM)  angkatan 2011/2012. Aku yang menjadi salah satu anggota DPM ikut andil menyaksikan LKM itu. Sayangnya, kondisi badan yang gak bersahabat dengan dingin ini membuatku merepotkan teman yang lain. Kondisi alam lembang yang memang benar-benar dingin ditambah lagi hujan yang mengguyur pada malam hari itu membuat badan si aku menggigil habis. Begitu pula, beberapa hari kemarin. Pagi-pagi saja sudah mendung, mentaripun tidak mengintip sedikitpun. Alhasil, ubin dan kasur yang aku tiduripun menjadi dingin. Jadi, otomatis aku gak betah berlama-lama dikasur. Beda dengan hari ini, setidaknya mentari mau menengok sebentar saja. Aku betah banget tuh dikasur yang empuk ditemani sebuah guling jelek punya aku he...he.... sesudah solat aku balik lagi ke kasur, eh ketika bangun ternyata jam dinding di atas lemari sudah menunjukkan pukul 8 tepat. Bangun tidur, beresin kasur, gosok gigi, makan roti isi susu coklat kental manis. Beberapa menit saja, tumpukan roti itu habis dilahap mulutku.
    Teras rumah aku nampak menjadi tempat favorit anak bermain. Berisik sekali, belum lagi ulah mereka yang senang main bola diterasku, padahal jelas sekali ada lapangan tempat bermain bola, merekapun senang memanjat pagar rumahku. Berkali-kali aku meminta mereka tidak bermain diteras rumah, berkali-kali aku kunci pintu gambar, dan berkali-kali itu pula mereka ngotot balik lagi. Aku sih biasanya santai saja, bicara pelan-pelan, meminta pelan-pelan. Coba kalau nenek aku yang menyamperi mereka pasti mereka sudah kalang kabut berlarian keluar pagar. Soalnya, nenek suka memarahi mereka.
    “huft... main lagi diteras-main lagi diteras, kalau bukan calon guru yang baik udah habis aku marahi tuh” gerutu aku dengan emosi sesaat sambil berjalan ke arah teras rumah
    “hey, Pais mainnya di lapang aja ya? Ajak temen-temennya ya, Is?” perintahku pada seorang anak sembari tebar senyuman
    “eoong.....eonnnnng....eong...” seekor anak kucing menghampiriku
    “Hey, lucu banget kamu meng (panggilan untuk seekor kucing), aduh ko kotor banget sih pasti dijaili anak-anak. Jahaaaaat banget !” ibaku pada kucing kecil berwarna oranye itu
Ya, begitulah biasa anak-anak kecil disini terkadang jail pada binatang. Dulu aja kucing aku Momo, bulunya digunting ampe keliatan kulit merahnya.
    “kucing siapa Ki?” tanya babeh aku (Kiki = panggilan kecil aku)
    “gak tahu, kayanya diambil anak kecil, jadi pisah sama orangtuanya, terus dijaili beh”
    “lucu tuh Ki kucingnya, bulunya tebel, ekornya sedikit” sambil berjalan keluar pagar
    “aku cuci ah kakinya” kata aku dalam hati
    “Mandikan aja Ki pake shampi biar wangi” teriak babeh dari luar pagar
Akhirnya, aku memutuskan untuk memandikan kucing kecil itu. Aku bersama adik perempuanku dengan hati-hati memandikan kucing kecil itu dengan air hangat. Kucing kecil itu pun nampak tak keberatan. Kucing kecil itu nampak senang, apa yang kami lakukan padanya sepertinya ia menerima saja. Sesudah itu, aku langsung mengeringkan badannya dengan sebuah lap dari handuk. Kucing itu masih diam saja tidak berontak. Aku menemaninya berjemur dibawah sinar matahari. Lucu sekali tingkah kucing kecil itu seertinya, aku jatuh hati padanya.
    Aku membelikannya sebuah susu kental manis, habis diwarung gak ada susu sapi yang tawar. Jadi, sementara aku beri dulu saja yang ada. Kebetulan ada dot hamster yang nganggur. Sayangnya, kucing itu kurang menyukai air susu itu. Kucing itu nampak masih memerlukan ASI dari ibunya. Kalau aku tahu keberadaan induknya pasti udah aku cari.
    “meng, maunya apa donk? Nanti kamu kelaparan”
Kucing kecil itu nampak senang berada dekat manusia. Buktinya, kemana aku berjalan pasti saja kucing kecil itu mengikuti. Tidurnya selalu pengen dikeloni. Kalau dia bangun gak ada manusia yang menemani disekitarnya, pasti dia mencari-cari sambil mengeluarkan suara khasnya. Beruntungnya ia mau memakan nasi dicampur ikan bandeng, walaupun hanya sedikit yang dimakan. Setidaknya, ada makanan yang tertelan dan masuk ke dalam perutnya.
    “dek, jangan panggil meng. Panggil ajah Selo, biar kebiasaan kalau dipanggil Selo dia nantinya bakalan nengok” kataku pada adik aku
    “kok Selo sih?” tanya heran adik aku
    “Selo, lengkapnya Selokan. Soalnya, kan ditemukannya lagi keadaan kotor kena air selokan. Haha...”
    “si teteh mah aya-aya wae (ada-ada saja)”
    Akhirnya, hari ini tanggal 15 Januari, kucing kecil itu resmi jadi anggota baru keluarga kami. Tingkahnya, lucu sekali. Selo tidak mau tidur dibantal kucing kalau tidak ada yang menemani. Selo gampang terkejut bila ada suara kencang. Selo sepertinya senang ketika aku kelitiki tubuhnya. Saat ini saja Selo sedang tidur dipangkuan adik aku Rizka. Tadi, aku yang menemaninya. Begitu Selo tidur aku mengerjakan aktivitas lain. Saat dia bangun tak ada siapa-siapa disekitarnya. Langsung saja, dia mencari-cari orang yang ada dirumah sambil bersuara “eong....eonnng”. suaranya begitu kuat. Kasian, Selo tak mau minum susu yang aku beli. Mudah-mudahan besok aku bisa menemukan induknya dan Selo bisa kenyang lagi. Aku sayang kamu Selo. Selamat datang Selo di keluarga kami .

Kata mutiaraku :
Apapun itu, hewan, tumbuhan, maupun benda mati, jagalah dan sayangi mereka dengan baik dan sentuhan kasih sayang. Sesungguhnya, ada kebahagiaan dari mereka untuk dirimu bahkan, bisa jadi mereka lah pengobat otak penatmu 

Diposting oleh catri maulid di 06.02 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Kamis, 12 Januari 2012
In: corat-coret kehidupan (non fiksi)

air mata untuk kucing

               
       Kemarin, bener-bener hari yang menguras air mata. Ceritanya kemarin aku berangkat pergi ke kampus saudara-saudara sekalian. Jalanan pagi sekitar pukul setengah 8, macet padat merayap. Katanya ada komo lewat//Lho. Hhe.... karena itulah, aku memutuskan lewat jalan tikus, tapi gak kecil-kecil juga sih lebar ko jalannya, pemukiman warga caringin padalarang. Gak tahu yah? Kalian sih taunya dari padalarang Cuma kota baru doang (hehe). Santai saja aku membawa motor dengan jalanan yang lumayan lowong (sepi). Biasa, aku melamun melihat yang terlihat oleh mata yang penting otakku sudah tersetting menuju kampus. Tiba-tiba penglihatanku tertuju pada sesosok kucing dewasa berwarna oranye. Saat aku melihat seekor kucing itu dalam pikiran dan hatiku terbenak “kucing itu bakalan tertabrak motor”. Huft, seharusnya aku gak boleh berpikir buruk eperti demikian. Kucing malang yang duduk dipinggir gerobak sampah menunggu sisa makanan yang terbuang untuknya. Tukang sampah itu berjalan membawa sampah yang dipinggulnya menuju gerobak, kucing malang itu sepertinya terkejut langsung menyebrang ke arah lain dan seketika itu pula motor yang melaju kencang melindas dua kali dan kucing tetap mencoba berlari akhirnya terpental ke dalam selokan. Astaghfirulloh...kejadian itu terus terbayang-bayang hingga sekarang. Aku teriak-teriak seperti orang gak waras tapi, bapak-bapak yang menyetir motor dan membonceng istrinya itu cuek bebek. Mereka tidak mengkhawatirkan kucing itu. Aku berhenti ingin mencari dimana kucing itu, tapi tidak terlihat. Dua orang tukang sampah itu tidak melihat kejadian itu. Mereka malah terus wae ngeliatin (-in gak ada dalam ejaan. Hhe) aku yang teriak-teriak geura. Aduh mamang-mamang malah ngeliat aku dengan tampang yang bingung. Karena aku pun terburu-buru aku gak bisa menolong kucing itu. Aku hanya berharap dia gak kenapa-napa.
       Sepanjang jalan aku menangis. Aku menggerutu. Aku tepat di belakang motor bapak-bapak tadi. Aku ingin menegur tapi aku sendiri. Apa yang harus aku lakukan? Aku tetap menangis mengingat aku yang tak bisa melakukan apa-apa.
       “uhhhh...kesel-kesel, bapak-bapak jahat, gak punya perasaan, kurang ajar, kamu pikir kucing       Cuma binatang sembelih apa? Kucing juga punya rasa sakit tau.” Gerutuku sambil menangis
       “kenapa coba aku gak tolong? Kenapa harus buru-buru? Kenapa harus ada uas? Ahhh...bapak-bapak bego, bodoh. Tuh ibu-ibu yang belakang juga kok gak tersentuh hatinya.” Gerutuku lagi
Aku terus menggerutu dan menangis sepajang jalan. Aku gak sadar ternyata aku sudah sampai sangkuriang. Pertigaan yang membuat kendaraan berjalan bergantian. Aku mebuka kaca helmku, seketika orang-orang disekelilingku melihat wajah ku dengan penasaran. Aku bingung sendiri jadinya, kenapa mereka memperhatikanku seperti itu. Pas aku liat spion “ya, Alloh mata aku sembab”. Aku tutup lagi ajah tu helm. Bener-bener aku sakit hati ama bapak-bapak hati itu.
       Siangnya aku dan teman temanku diem tuh dikostannya pepey. Saat asyik-asyiknya mau tidur. Pepey panggil-panggil aku. Katanya, dia liat kucing kecil di selokan. Buru-buru ajah kita lihat. Pepey pengen banget nolong tuh kucing. Tapi, pepey gak bisa. Gak ada cara buat nolong tuh kucing mungil. Gak ada jalan buat ke tempat kucing kecil itu. Kucing kecil itu terpelungkup dan bersuara lemah. Sepertinya, kucing itu meminta pertolongan. Lagi-lagi gak ada yang bisa aku perbuat. Kucing kecil itu tampak sudah sekarat, tak bisa berjalan. Nampaknya kucing kecil itu terbawa arus bisa sampai jauh seperti itu. Hujan mulai turun, kalau hujan turun dengan lebat aku yakin kucing itu akan terbawa hanyut. Was-was aku meninggalkan kucing itu. Ampun, sekarang dua kucing dalam pikiran ku. Mataku berkaca-kaca lagi. Hujan ternyata lebat. Aku benar-benar takut. Aku bingung gak tahu harus melakukan apa. Setengah jam kemudian hujan pun berhenti. Aku melihat kembali keadaan kucing itu. Aku berharap ada keajaiban dan kucing kecil itu selamat. Ternyata harapan aku tak terwujud. Kini kucing itu sudah meninggal dunia nampaknya, kucing itu sepertinya kedinginan. Kucing kecil meninggal dengan basah kuyup, kepalanya meminggir. Kucing yang lucu kataku dalam hati. Tubuhnya yang mungil tertimpa-timpa air yang keluar dari paralon. Kasian sekali kucing kecil itu.
       Malam tiba saat waktu menunjukkan manusia agar terlelap. Aku tidak bisa tidur. Kejadian hari ini tentang kucing masih saja terlintas. Kucing yang terlindas depan mataku ini khususnya.  Takuuut...takuuut. aku hanya bisa berharap kucing itu selamat. Orang bilang kalau ada kucing tertabrak kendaraan, biasanya kendaraan itu seringkali membawa celaka. Entah mitos atau memang benar. Yang jelas aku berharap bapak-bapak itu sadar dan tidak akan terjadi apa-apa padanya serta kucing malang itu. :D
Makhluk ciptaan Alloh wajib disayang tak terkecuali dengan hewan.
Diposting oleh catri maulid di 20.32 4 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Jumat, 16 Desember 2011
In: cm's phoem

Rasa Bersamamu

Dalam duka ku tersedu,
Dalam tawa ku terbahak,
Dalam haru ku tertunduk,
Dalam riang ku gembira,
Dalam rasa bersamamu aku bahagia



hutan berduri seakan hutan kapas
padang pasir menghampar seakan padang ber-air
dalam rasa bersamamu semua menjadi seakan

saat hiburanmu mencapai batinku
seraya batinku tergugah dalam taburan bunga
bila mutiara sepertimu menjadi hitam karenaku
aku takkan pernah memaafkan diri
hari akan berada dalam penyesalan
selalu bersama takkan terhalau
dalam rasa bersama sahabat
cintapun akan bersahabat
Diposting oleh catri maulid di 22.48 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

Kehilangan dan Terpuruk

Belalakan matamu
ngiangkan telingamu
seruput haus nafasmu
penuhkan paruparu mu

hamparan kecil sakit meradang
sekeliling yang meronta
hanya pahit hidup yang terasa
tak membuat patah harapan

kehilangan memang membuta
yang disayang pergi berkelana
menyentuh nirwana
semoga berbahagia

diamlah sejenak
jangan lah menyerah
dirimu masih dipapah
inginkan mu terus melangkah

jangan larut dalam terpuruk
takkan bisa tepis alur
biarkan saja berlalu
nantipun akan begitu

::: for teman yang ditinggalkan orang terkasihnya
Diposting oleh catri maulid di 19.24 0 komentar
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook
Postingan Lama
Langganan: Komentar (Atom)
@ 2011 kembang pena; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog