PUISI

  • Beranda

Like This

Punya aku

  • cm's phoem (9)
  • corat-coret kehidupan (non fiksi) (4)

About Me

Foto Saya
catri maulid
simple... menulis untuk penuangan pikiran, imajinasi dan perasaan
Lihat profil lengkapku

Wilujeung Tepang...

WiLujeung TEpang "Kembang Pena"

terima kasih sudah berkunjung, nikmatilah segala sesuatu sebagai asupan mata, imajinasi dan hatimu.

add my Facebook

ma'hamii

ma'hamii
ma'hamii

pelindung

DMCA.com

ma'hamii

ma'hamii
ma'hamii
catrimaulid. Diberdayakan oleh Blogger.

ma' hijab

ma' hijab
ma' hijab

ma'hijab

ma'hijab
ma'hijab

Followers

Catri Maulid

Jumat, 24 Februari 2012
In: corat-coret kehidupan (non fiksi)

FIRASAT BURUK TERBUKTI

    Malam yang tidak begitu dingin, aku terlelap dalam hangatnya kasur yang empuk di rumahku. Dua hari istirahat di rumah serasa tak cukup bagiku. Malam itu aku bimbang, aku masih ingin istirahat dari sakitku di rumah, tapi hatiku yang lain berkata aku rindu murid-muridku dan aku yakin merekapun rindukan aku. Tak biasanya mata ini terpejam cepat, pukul 8 malam jiwaku sudah berkeliaran untuk mencari mimpi si bunga tidur. Walaupun jiwaku tak ada ditempatnya aku merasa antara tidur dan terjaga. Perasaan yang aneh di selasa malam tanggal 21 Februari 2012. Mimpi yang samar, mimpi yang membuat aku gundah. Berkali-kali aku berpindah channel mimpi, berkali-kali pula mimpi itu mengenai kejadian kecelakaan. Aku sungguh takut malam itu, begitu berusahanya aku coba untuk bangun. Akhirnya, dengan keadaan yang sedikit linglung, aku pergi ke kamar mandi dan mengambil wudlu. Aku merasa bingung perasaan yang tidak mengenakkan ini apa, aku merasa akan ada yang terjadi esok hari. Akhirnya, aku kembali ke atas tempat tidurku, berdoa sebelum tidur hingga terlelap dengan mimpi yang masih tetap samar.
    Kini hari sudah berpindah menjadi rabu tanggal 22 februari 2012 tepatnya. Bangun dengan perasaan yang mengganjal pada jam setengah lima pagi. Suara adzan terdengar menggema. Mataku yang masih sedikit susah terbuka memaksaku ke kamar mandi untuk menggosok gigi dan mengambil air wudlu. Solat subuh aku jalani, dingin yang menusuk membuatku mengurungkan niat untuk mandi. Aku hanya mengganti pakaian dalamku dan memakai baju mengajarku. Yah, baju berwarna hitam dengan garis-garis putih cocok dengan kulitku yang putih. Baju yang bagus, baju baru yang mamah aku berikan. Aku menyukai modelnya, tapi entah mengapa baru kali itu aku kurang menyambut datangnya baju baru tersebut. Tidak seperti biasanya, bila ada baju baru aku suka centil kaya anak kecil yang dapat baju baru. Huft... aku merasa ada yang mengganjal dengan baju itu. Aku mengaca di cermin, jilbab, bau guru sudah terpakai tapi masih saja ada yang kurang.
    “Ya, Alloh kenapa aku merasa tidak nyaman dengan baju ini. Kenapa baju ini berwarna hitam? Pasti ada apa-apa nanti” hatiku berkata demikian
Mengapa aku merasakan hal aneh ini, aku takut memakai baju hitam ini. Tidak seperti biasanya pula aku santai ketika akan pergi. Sarapan pun sedikit. Pukul 05.15 WIB kekasihku menjemputku. Ia hendak mengantarkan aku pergi. Melihat dirinya akan mengantarkanku pun aku merasa aneh. Aku malah pagi itu untuk pergi. Setelah kekasihku ias meneguk teh manis buatanku hingga habis kami berpamitan dengan nenek. Seperti biasa, nenek mendoakkan keselamatanku sebelum pergi. Ias pun meminta doa untuk kami sebelum kami pergi.
    “sebelum pergi berdoa dulu... bismillahi tawakaltu...............................” kataku dalam hati
aku pergi diantar Ias menaiki motor bapakku. Masih saja aku merasa tidak enak hati dan masih saja ada perasaan yang tidak nyaman dengan pakaian yang aku kenakan.
    Perjalanan terasa cepat, dingin pagi pun aku tak merasakan. Pikiranku seperti ada yang menyihir pada sebuah tragedi kecelakaan. Aku bingung kenapa semenjak malam tadi aku terus saja memikirkan kecelakaan. Aku takut sekali akan terjadi apa-apa. Terlebih lagi aku takut kejadian tidak mengenakkan terjadi pada Ias. Obrolan dengan Ias di sepanjang jalan pun tetap saja tidak bisa membuatku fokus. Aku dan Ias menghampiri kediaman Novi temanku. Dari rumah Novilah Ias akan melepaskan aku. Ias hanya mengantarkan aku sampai rumah Novi. Selanjutnya, Aku berangkat bersama Novi. Tiba disana tidak biasanya melihat Novi tidak sesigap biasanya. Ia agak terlambat. Aku datang Novi baru saja mandi. Perasaan aku makin tidak karuan. Ada apa sebenarnya ini.
    Sekitar jam 06.30 aku berangkat. Berpamitan dengan orangtua Novi adalah hal yang kami dahulukan. Sama seperti nenek mereka mendoakkan keselamatan kami. Ias sendiri di motor bapakku sementara aku duduk dibelakang di motor yang Novi kendarai. Sebelum kami melesat ke daerah bandung bagian barat tepatnya kota lembang, kami mengantar Ias terlebih dahulu sampai lampu merah yang menuju fly over. Aku khawatir sama Ias. Aku takut terjadi apa-apa. Tak henti-hentinya aku mendoakkannya. Beberapa kali aku mengucapkan “dadaaaaah aa... hati-hati yah hati-hati”. Firasat buruk sedang menghantuiku. Di perjalanan menuju Lembang via Dago aku dan Novi bercerita macam-macam. Aku pun mecoba untuk berteriak-teriak senang kembali walaupun sebenarnya aku merasa dihantui firasat buruk. Aku ingin segera sampai di Cibeureum Lembang. Aku ingin segera membuka ponselku. Aku ingin menghubungi dan memastikan Ias telah sampai di rumah dengan selamat.
    Pukul 07.00 kami sampai di gerbang Narima Hotel. Jalan yang menghubungkan kami ke desa cibeureum. Hatiku makin merasa tidak karuan. Padahal kami akan sampai di tempat tujuan. Kurang lebih sektar 3 km lagi. Kami pun sudah masuk ke daerah perkampungan. Novi dengan santai mengendarai motor. Ia mengendarai motor sekitar 20-30km/jam. Tiba-tiba ada seseorang ditemani orang lain dibelakangnya mengendarai motor seenaknya. Mereka keluar dari gang kecil dengan sekaligus sehingga spontan kami kaget dan motor oleng,
    “teh Novi awas....”teriakku.
Dengan sigap rem depan dan belakang Novi tekan. Tetap saja motor seperti ya terkejut dengan rem dadakan itu sehingga motor keluaran lama itu tak berdaya menanggung berat kami dan mempelantingkan kami. Aku mendarat jatuh duluan di tanah kotor sebelah aspal yang berbatu. Saat itu aku masih mempunyai usaha. Aku jatuh dengan keadaan duduk dan tangan menopang berat tubuhku. shock tak terelakkan lagi, bukan karena aku yang jatuh, tapi aku shock melihat Novi terjatuh didepan mataku dengan posisi tertelungkup. Aku melihat dengan mataku sendiri bagaimana wajah Novi bergesekkan dengan aspal, aku melihat Novi mencoba bangun memegang hidungnya. Aku melihat kaca matanya yang berguguran cembungnya, aku melihat bagaimana aliran darah langsung menutupi bagian tengah wajah Novi. Yang aku takutkan kaca dari kacamatanya masuk ke dalam retina matanya. Aku ingin sekali bangun dan menolongnya. Tubuhku lunglai. Kakiku sulit digerakkan begitulah tubuhku merespin saat melihat aliran darah. Sepertinya, tatapan mulai gelap, aku merasa akan jatuh pingsan. Aku hanya mendengar orang-orang meneriaku. “awas itu kena batu... kena batu”. Mataku mulai gelap, aku merasakan aku dipayang oleh beberapa orang. Aku diturunkan di bagian depan rumah warga. Mataku mencari Novi. Aku melihat Novi sudah didalam. Syukurlah dia tak kenapa-napa, masih sanggup berdiri. Aku ingin menghampirinya dan memeluknya, karena aku tahu lukanya lebih parah dariku. Aku tidak tahu kekuatan apa yang bisa membuat dia jalan dengan sendirinya ke dalam rumah warga dan kulihat dia sedang menelepons seorang teman. Entah siapa yang dia telepon namun dapat kupastikan dia menelepon teman sekelompok kami. Kakiku keram masih sulit digerakkan, mataku semakin gelap dan aku merasa aku pasti akan pingsan. Dengan keadaan setengah sadar aku mengingat Alloh dan aku mengucapkan kalimat istighfar. Pandanganku mulai cerah kembali, aku dipayang oleh seorang warga ke dalam ruangan. Aku dibaringkan di sebuah kursi tamu. Kakiku masih sulit digerakkan. Terasa kakiku sedang dipijat-pijat. Akhirnya, kakiku bisa gerak namun kaki ini terasa perih. Ternyata memang kakiku ada luka, tanganku juga terluka dan celanaku berlubang. Akhirnya, aku bisa cerah melihat wajah Novi. Novi nampak sibuk mengelap wajahnya dengan hnduk basah dibantu oleh warga. Aliran darah terus mengalir. Mulutku sulit berkata. Aku tak memikirkan diriku lagi, aku bingung harus berbuat apa untuk Novi. Aku hanya bisa diam.
    Aku menceritakan kronologis peristiwa itu. Aku berkata kalau Novi tidak sedikitpun mengebut. Kalau kami mengebut mungkin keadaan kami lebih parah dari ini. Orang yang mengendarai motor itu saat kami jatuh malah melamun dan tidak tergugah untuk menolong. Ketika warga yang lain memerintahkan orang itu untuk menolong barulah beliau menolong dan setelah itu kabur entah kemana. Aku tak peduli mereka mau merasa bersalah atau tidak. Yang aku pedulikan keadaan Novi. Aku merasa takut, bayangan kejadian Novi saat terjatuh masih menari-nari di benakku. Akhirnya, setelah beberapa menit kemudian kami dibawa ke PUSKESMAS Cikole, PUSKESMAS terdekat dari daerah Nyampay tempat kejadian itu. Bersamaan itu teman sekelompok kami Ina dan Santi datang. Ina terlihat bingung, ia sontak mengucapkan “Allohu Akbar” saat melihat kami. Aku tak peduli tak ada orang yang memboyongku, asalkan temanku Novi dibantu berobat, aku pun tidak peduli jika aku tidak diobati, aku hanya ingin Novi terobati. Aku mengikuti Novi dari belakang masuk ke dalam mobil box. Di dalam mobil kami berpandangan.
    “Chat, maafin aku yah?” dengan mata yan berkaca-kaca
Aku tak bisa menjawab itu, aku hanya terdiam dan aku mencoba memeluk Novi dan mencium kerudungnya. Aku sayang temanku, aku tak ingin dia kenapa-napa. Aku akan merasa dalam penyesalan jika Novi kenapa-napa. Beberapa menit saja kami sampai di PUSKESMAS, aku meminta Ina melihat Novi terlebih dahulu dan jangan pikirkan aku. Novi dabringkan di tempat tidur pasien, sedangkan aku duduk. Aku merasakan sakit, tapi aku merasa sakit lagi ketika Novi berteriak kesakitan dan menangis kencang karena tak tahan merasakan sakit saat lukanya dibersihkan. Aku ikut menangis. Aku shock shock shock. Aku tak kuat mendengar tangisan Novi, aku tidak peduli luka-lukaku, Ina menutup telingaku dan aku memeluk Ina dengan erat. Setelah Novi, barulah aku diobati. Lukaku dibersihkan, aku mencoba tak menangis, aku menahan sekuat mungkin yang aku rasakan, karena aku tahu yang aku rasakan tak sebanding yang Novi rasakan. Aku mendengar dokter berbicara kalau Novi harus dijahit. Pikiranku langsung ketakutan, aku tahu Novi menolaknya. Dia takut untuk hal-hal seperti itu. Aku tahu karena sikap kekanakkannya tidak beda jauh denganku. Benar saja Novi menolaknya. Orang-orang yang berkunjung untuk berobat mengalihkan pandangannya ke arah kami.
    Nova saudara kembar Novi datang. Novi kembali menangis, akupun ikut menangis. Aku melihat raut kekhawatiran dari wajah Nova.
    “keluarga Novi ada? Penanggung jawabnya...?” dokter memanggil
Terbesit dibenakku, siapa yang akan menjadi penanggung jawabku? Tak ada  keluargaku disini. Kalau aku menelepon rumah, hanya ada nenek di rumah, nenek pasti tak tahu harus bagaimana dan malah membuat nenek kepikiran aku gak tega. Mau menghubungi orangtua, mereka tidak memegang handphone lagi. Aku memberitahu Ias semenjak di rumah warga tadi. Aku tak sengaja melihat handphone dan mendapat pesan dari Ias bahwa ia telah sampai di rumah. Aku merasa lega. Ias, hanna temanku berulangkali meneleponku. Tapi aku tak menggubrisya. Aku masih memandang Novi. Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya dengan wajah yang sudah tertutup kain kassa dan plester. Ina menjawab telepon Ias. Ina memberitahu Ias. Ina meminta agar tidak menghubungiku dulu sepertinya Ina tau kalau aku masih shock. Hanna datang, dia memelukku dan aku menangis aku bilang “kasian...teh Novi”, Hanna pun melihat keadaan Novi. Perih rasanya melihat keadaan kacau teman sendiri. Biaya administrasi sudah dibayar Nova. Akhirnya, kami kembali ke rumah warga yang tadi menolong. Sementara kami berbaring di kamar. Aku lega melihat Novi masih bisa becanda. Aku sempatkan membuka ponselku. Aku lihat ada satu pesan dari Novi, ia meminta maaf lagi. Kadangkala aku menutupi wajahku dan mengerutkan keningku saat aku melihat luka di wajah Novi yang mengingatkan kejadian yang buatku melunglai. Istighfarku dalam hati mengingat hal itu. Aku mencoba mengalihkan pikiranku, dan tidak hiraukan rasa sakitku, aku ikut becanda. Tak berapa lama datanglah ibu Hj. Eka pengganti orangtua kami di tempat PPL. Kami tinggal di rumah beliau. Dia nampak terkejut melihat keadaan Novi. Ia pun berkata padaku
    “emh, bade aya neng catri deui bakalan rame deui, tapi kalahka kejadian kieu (emh, mau ada catri lagi, bakal rame lagi, tapi malah kejadian kayagini)” simpati bu Hj. Eka
Kami berdua diantar ibu Hj. Eka beserta suami dengan menaiki kendaraan pribadinya. Ke rumah Novi di Cisitu Dago. Dua teman kami, Widia dan Lia ikut mengantar kami. Tak ketinggalan Pepey dan Hanna menyusul menggunakan motor.
    Sampai di rumah Novi, terlihat raut tegang di wajah orangtua Novi. Aku ikut menunggu di rumah Novi sebelum aku di jemput Ias. Lama aku berada disana. Sebentar aku dan teman-teman bercengkrama memuaskan kerinduan. Benar kata Hanna, kumpul ya kumpul tapi kenapa harus ada yang celaka dulu. Satu per satu pulang hingga tinggalah aku seorang yang menunggu. Aku nenghampiri Novi dikamarnya.
    “teh maafin catri yah?” sambil memegang jari jemarinya
    “catri minta maaf untuk apa?” tanya balik Novi
    “aku ingin minta maaf ajah, teteh tau gak? Teteh sekarang jelek banget dengan muka kayagitu. Cepet sembuh teh biar cantik lagi” candaku
Walaupun sepertinya sakit Novi menoba untuk tersenyum. Aku memeluknya sebentar.
    “kita jadikan pembelajaran yah, teh? Tenang ajah PPL terlambat yang penting agustus teteh pasti jadi nikah” hiburku lagi
    “aamiin...”masih mencoba tersenyum
Tak berapa lama Ias datang menjemput. Dia datang tepat waktunya saat aku mulai merasa pusing. Saat aku mulai merasakan capek yang teramat. Sambil menunggu hujan reda kami melihat keadaan Novi, lalu kami pulang. Dalam perjalanan firasat ku kini sudah hilang hanya saja pikiran tentang kejadian tadi selalu saja berlalu-lalang.

    Ya Alloh, kejadian ini kata teh Novi biarkan jadi kenangan indah. Kami tahu ini bukti engkau sayang kami. Kami tahu engkau tidak mungkin memberikan ujian pada kami yang melebihi kemampuan kami.
    Aku sempat berpikir, kenapa bukan aku yang terluka lebih parah dibandingkan aku merasakan sakit yang mendalam akan peraaan bersalah dan shock ini. Walaupun, aku tahu seharusnya aku mengucapkan syukur karena kami masih diberi perlindungan. Aku gak tega melihat Novi dan aku pun tersiksa bila harus mengingat kejadian itu. Sampai sekarang selalu terbayang, kejadian jatuh Novi di depan mataku. Aku selalu mengutuk, aku jatuh duluan kenapa aku tidak sigap menahan Novi, kenapa aku tidak kuat berdiri untuk menolong Novi, Kenapa? Kenapa saat itu aku tidak berdaya? Aku takut peristiwa ini akan terus terlintas. Beginilah aku selalu mengiang apa yang terlintas di depan pandanganku.
    Ya Alloh, Ya Robby, maha pemberi kesembuhan, sembuhkanlah hamba terbaikmu Novi. Sehatkanlah dia lebih dari biasanya. Kabulkanlah segala yang ia inginkan, dan selalu berikan dia yang terbaik. Aammin

“segala sesuatu akan ada hikmahnya dan yakinlah kita pasti mampu menghadapi segala ujian, lagipula ujian adalah hal yang terindah”

Diposting oleh catri maulid di 04.20
Kirimkan Ini lewat Email BlogThis! Bagikan ke X Berbagi ke Facebook

0 komentar:

Posting Komentar

Posting Lebih Baru Posting Lama
Langganan: Posting Komentar (Atom)
@ 2011 kembang pena; Many thanks to: Blogger Templates / blog Design Company / SEO / free template Blog